Bagi PDAM yang ingin mengembangankan sendiri aplikasi GIS, ada beberapa hal yang cukup mudah untuk dilaksanakan antara lain:
1. Kesiapan SDM menguasai software (ArcView/ArcGis/MapInfo dan banyak software lainnya).
2. Mempunyai peta dasar kota anda (foto udara/citra satelit/ dll)
3. Lakukan digitasi layer (jalan, bangunan, sungai, wilayah/zona/blok) dengan sistem koordinat UTM.
4. Lakukan survey untuk penamaan (atrribut) jalan dan bangunan (fasilitas-fasilitas umum).
5. Untuk Manajemen GIS Pelanggan, lakukan survey seluruh pelanggan dan tempatkan point pelanggan sesuai dengan posisi bangunan pelanggan
6. Atrribut pelanggan (No. pelanggan/alamat/golongan klasifikasi/zona/blok/kelurahan/kecamatan/status(aktif/pasif)/dan sesuai kebutuhan)
7. Untuk menejemen GIS jaringan perpipaan dan accessories, lakukan digitasi dari sumber data gambar (asbuilt drawing) bila meragukan lakukan verifikasi lapangan.
Kunci keberhasilan pengembangan ini adalah:
1. Adanya dukungan sumber pendanaan (khusus untuk survey pelanggan) dan kegiatan verifikasi jaringan.
2. Kesiapan pengembangan SDM untuk menambah skill/pengetahuan tentang aplikasi GIS
3. Team harus fokus/serius dalam melaksanakan kegiatan pengembangan ini. (sebagai ilustrasi untuk jumlah pelanggan sekitar 80.000 membutuhkan waktu sekitar 3-4 tahun).
Jumat, 20 Maret 2009
ALTERNATIF PEMBACAAN METER UNTUK PENGENDALIAN KEHILANGAN AIR
Hasil pembacaan meter merupakan indikator perhitungan jumlah air terpakai, dan akurasi pembacaan sangat penting. Masalah yang selama ini terjadi seringnya pembacaan yang tidak akurat baik disebabkan oleh human error maupun permasalahan pada water mater pelanggan.
Untuk mengoptimalkan hasil pembacaan meter pelanggan sebagai indikator analisa kehilangan air, dapat dilakukan dengan syarat :
1. Sistem distribusi pengaliran dengan sistem DMA (blok) yang dilengkapi dengan meter blok yang berfungsi baik. Blok harus benar-benar terisolasi (tidak berhubungan dengan blok yang lainnya.
2. Pembagian petugas pembacaan meter dilakukan berdasarkan blok
3. Waktu pembacaan disamakan antara membaca Meter Induk Blok dengan Meter pelanggan
Setelah syarat tersebut dipenuhi, hasil total angka bacaaan Meter Induk dan meter pelanggan tidak boleh selesih > 15% dan apabila lebih dapat disimpulkan bahwa teridentifikasi terjadi kehilangan air yang harus dilakukan pengecekan secara komprehensif pada semua indikator lainnya. (pengecekatan jaringan pipa, akurasi meter pelanggan, dsb)
ini merupakan sedikit solusi, apakah saudara-saudara pembaca mempunyai metode lainnya, silahkan berikan informasi menjadi renungan kita semua untuk menjadikan PDAM lebih baik lagi
Untuk mengoptimalkan hasil pembacaan meter pelanggan sebagai indikator analisa kehilangan air, dapat dilakukan dengan syarat :
1. Sistem distribusi pengaliran dengan sistem DMA (blok) yang dilengkapi dengan meter blok yang berfungsi baik. Blok harus benar-benar terisolasi (tidak berhubungan dengan blok yang lainnya.
2. Pembagian petugas pembacaan meter dilakukan berdasarkan blok
3. Waktu pembacaan disamakan antara membaca Meter Induk Blok dengan Meter pelanggan
Setelah syarat tersebut dipenuhi, hasil total angka bacaaan Meter Induk dan meter pelanggan tidak boleh selesih > 15% dan apabila lebih dapat disimpulkan bahwa teridentifikasi terjadi kehilangan air yang harus dilakukan pengecekan secara komprehensif pada semua indikator lainnya. (pengecekatan jaringan pipa, akurasi meter pelanggan, dsb)
ini merupakan sedikit solusi, apakah saudara-saudara pembaca mempunyai metode lainnya, silahkan berikan informasi menjadi renungan kita semua untuk menjadikan PDAM lebih baik lagi
STRATEGI PENANGANAN KEBOCORAN AIR
KEUNTUNGAN PENURUNANKEBOCORAN NON FISIK
• Penurunan kebocoran non fisik lebih mudah daripada kebocoran fisik
• Kebutuhan investasi rendah
• Pengembalian modal lebih cepat
• Peningkatan pendapatan dari penurunan kebocoran non fisik bisa digunakan untuk program penurunan kebocoran fisik
FAKTOR KEHILANGAN AIR NON FISIK
1. AKURASI METER
2. SAMBUNGAN LIAR DAN
3. PENCURIAN
4. KESALAHAN PEMBACAAN DAN PENANGANAN DATA
PENYEBAB METER MENCATAT LEBIH RENDAH
1. Pemasangan & tata letak meter :
a. Meter yang didisain untuk pemasangan horisontal, tidak akan menunjukkan kinerja yang maksimal apabila dipasang vertikal
b. Bend atau knee yang dipasang dihulu, terlalu dekat meter.
2. Pemakaian meter :
a. Kinerja meter memburuk karena pemakaian
b. Umumnya merupakan fungsi umur dan kualitas air
c. Bisa lebih cepat memburuk apabila airnya agresif
d. Pengendapan kotoran bisa mempengaruhi mekanik meter, sehingga meter gagal mencatat aliran
3. Profil aliran tidak cocok
4. Kelas dan jenis meter
5. Ukuran meter
6. Spinning (pusaran) dan jetting (pancaran).
a) Spinning: meter mencatat melebihi sebenarnya oleh udara, akibat pelayanan “intermittent”
b) Jetting: disebabkan adanya rintangan di hulu meter yang mengalibatkan semburan air yang kencang pada mekanik meter, hasilnya meter mencatat melebihi sebenarnya.
c) Meter volumetrik (jenis piston) terkena efek yang sama dengan meter jenis jes akibat spinning, tetapi lebih tahan terhadap jetting
7. kebanyakan mencatat lebih tinggi
METER TEST BENCH
• Setiap pengelola air minum sebaiknya memiliki peralatan “test bench”, namun tidak harus
• Satu “test bench” bisa dimanfaatkan oleh beberapa pengelola air minum kecil
• Kemungkinan lain test meter dilakukan oleh pihak swasta ??
• Interval pengujian meter bisa berbeda untuk setiap pengelola air minum
• Contoh meter yang diuji dalam interval berkala yang lebih pendek untuk mengetahui keausan meter
dalam kondisi setempat
MEMILIH METER YANG BENAR
• Semakin rendah kelas meter, semakin kasar pengukurannya.
• Semakin tinggi kelas meter, semakin rendah aliran minimum yang bisa dicatat
• Kelas meter yang rendah direkomendasikan apabila kualitas air masih menjadi permasalahan
• Jenis meter bisa piston atau jet
KONSUMSI TIDAK RESMI
• Sambungan liar (ilegal konection) dan “T/By Pass Meter” pipa dinas (ilegal konsumsi)
• Pemakaian tidak resmi dari hidran .
• Pembaca meter nakal
STRATEGI PENGENDALIAN KEBOCORAN FISIK
1. Komitment manajemen
2. Deteksi dan perbaikan
3. Pengelolaan tekanan
4. Pengendalian kebocoran aktif
5. Kecepatan dan kualitas perbaikan
6. Perbaikan pipa
7. Manajemen asset
TINGKAT PENGENDALIAN
1. TINGKAT PERTAMA, DETEKSI KEBOCORAN YANG NAMPAK/MUNCUL _jelas, mudah dan murah
2. TINGKAT KEDUA, DETEKSI, LOKALISASI DAN PERKIRAAN KEBOCORAN YANG TAK NAMPAK _melalui peralatan akustik dan elektronik
3. TINGKAT KETIGA, PALING CANGGIH DAN PENTING _memahami, deteksi kebocoran melalui pengukuran aliran dan tekanan yang sistematik, serta pemodelan kebocoran pada zona meter (DMA – District Meter Zona)
PENURUNAN KEBOCORAN SERING DIABAIKAN, KARENA;
1. Upaya kebocoran bukan kegiatan teknik yang bergengsi
2. Menggali saluran sering jadi isu politik
3. Lebih kepersoalan manajerial daripada teknik
4. Tingkat kebocoran fisik dinggap kecil
5. Sering dilakukan pada malam hari _kurang menyenangkan
6. Perlu banyak peralatan (mobil, leak detector dlsbnya)
DETEKSI KEBOCORAN DAN PERBAIKAN KEBOCORAN YANG NAMPAK
1. Deteksi, pelaporan dan pencatatan kebocoran yang nampak, melalui;
- laporan warga, telepon hot-line
- laporan pembaca meter
- program inspeksi pipa
2. Upaya ini jelas, sederhana dan murah, namun perlu;
- pengorganisasian, prosedur, dan komitmen yang berkelanjutan
- kemampuan tanggap darurat dan perbaikan yang cepat
MENINGKATKAN KECEPATAN DAN KUALITAS PERBAIKAN
1) Keterlambatan perbaikan menyebabkan kehilangan air yang tinggi, harus ada kebijakan dan prosedur penanganan laporan kebocoran
2) Standar penanganan perbaikan, bahan dan sumber daya manusia
3) Pengorganisasian yang efisien sejak dilaporkan sampai diperbaiki
4) Ketersediaan bahan dan peralatan yang cukup
• Penurunan kebocoran non fisik lebih mudah daripada kebocoran fisik
• Kebutuhan investasi rendah
• Pengembalian modal lebih cepat
• Peningkatan pendapatan dari penurunan kebocoran non fisik bisa digunakan untuk program penurunan kebocoran fisik
FAKTOR KEHILANGAN AIR NON FISIK
1. AKURASI METER
2. SAMBUNGAN LIAR DAN
3. PENCURIAN
4. KESALAHAN PEMBACAAN DAN PENANGANAN DATA
PENYEBAB METER MENCATAT LEBIH RENDAH
1. Pemasangan & tata letak meter :
a. Meter yang didisain untuk pemasangan horisontal, tidak akan menunjukkan kinerja yang maksimal apabila dipasang vertikal
b. Bend atau knee yang dipasang dihulu, terlalu dekat meter.
2. Pemakaian meter :
a. Kinerja meter memburuk karena pemakaian
b. Umumnya merupakan fungsi umur dan kualitas air
c. Bisa lebih cepat memburuk apabila airnya agresif
d. Pengendapan kotoran bisa mempengaruhi mekanik meter, sehingga meter gagal mencatat aliran
3. Profil aliran tidak cocok
4. Kelas dan jenis meter
5. Ukuran meter
6. Spinning (pusaran) dan jetting (pancaran).
a) Spinning: meter mencatat melebihi sebenarnya oleh udara, akibat pelayanan “intermittent”
b) Jetting: disebabkan adanya rintangan di hulu meter yang mengalibatkan semburan air yang kencang pada mekanik meter, hasilnya meter mencatat melebihi sebenarnya.
c) Meter volumetrik (jenis piston) terkena efek yang sama dengan meter jenis jes akibat spinning, tetapi lebih tahan terhadap jetting
7. kebanyakan mencatat lebih tinggi
METER TEST BENCH
• Setiap pengelola air minum sebaiknya memiliki peralatan “test bench”, namun tidak harus
• Satu “test bench” bisa dimanfaatkan oleh beberapa pengelola air minum kecil
• Kemungkinan lain test meter dilakukan oleh pihak swasta ??
• Interval pengujian meter bisa berbeda untuk setiap pengelola air minum
• Contoh meter yang diuji dalam interval berkala yang lebih pendek untuk mengetahui keausan meter
dalam kondisi setempat
MEMILIH METER YANG BENAR
• Semakin rendah kelas meter, semakin kasar pengukurannya.
• Semakin tinggi kelas meter, semakin rendah aliran minimum yang bisa dicatat
• Kelas meter yang rendah direkomendasikan apabila kualitas air masih menjadi permasalahan
• Jenis meter bisa piston atau jet
KONSUMSI TIDAK RESMI
• Sambungan liar (ilegal konection) dan “T/By Pass Meter” pipa dinas (ilegal konsumsi)
• Pemakaian tidak resmi dari hidran .
• Pembaca meter nakal
STRATEGI PENGENDALIAN KEBOCORAN FISIK
1. Komitment manajemen
2. Deteksi dan perbaikan
3. Pengelolaan tekanan
4. Pengendalian kebocoran aktif
5. Kecepatan dan kualitas perbaikan
6. Perbaikan pipa
7. Manajemen asset
TINGKAT PENGENDALIAN
1. TINGKAT PERTAMA, DETEKSI KEBOCORAN YANG NAMPAK/MUNCUL _jelas, mudah dan murah
2. TINGKAT KEDUA, DETEKSI, LOKALISASI DAN PERKIRAAN KEBOCORAN YANG TAK NAMPAK _melalui peralatan akustik dan elektronik
3. TINGKAT KETIGA, PALING CANGGIH DAN PENTING _memahami, deteksi kebocoran melalui pengukuran aliran dan tekanan yang sistematik, serta pemodelan kebocoran pada zona meter (DMA – District Meter Zona)
PENURUNAN KEBOCORAN SERING DIABAIKAN, KARENA;
1. Upaya kebocoran bukan kegiatan teknik yang bergengsi
2. Menggali saluran sering jadi isu politik
3. Lebih kepersoalan manajerial daripada teknik
4. Tingkat kebocoran fisik dinggap kecil
5. Sering dilakukan pada malam hari _kurang menyenangkan
6. Perlu banyak peralatan (mobil, leak detector dlsbnya)
DETEKSI KEBOCORAN DAN PERBAIKAN KEBOCORAN YANG NAMPAK
1. Deteksi, pelaporan dan pencatatan kebocoran yang nampak, melalui;
- laporan warga, telepon hot-line
- laporan pembaca meter
- program inspeksi pipa
2. Upaya ini jelas, sederhana dan murah, namun perlu;
- pengorganisasian, prosedur, dan komitmen yang berkelanjutan
- kemampuan tanggap darurat dan perbaikan yang cepat
MENINGKATKAN KECEPATAN DAN KUALITAS PERBAIKAN
1) Keterlambatan perbaikan menyebabkan kehilangan air yang tinggi, harus ada kebijakan dan prosedur penanganan laporan kebocoran
2) Standar penanganan perbaikan, bahan dan sumber daya manusia
3) Pengorganisasian yang efisien sejak dilaporkan sampai diperbaiki
4) Ketersediaan bahan dan peralatan yang cukup
Langganan:
Postingan (Atom)
